TUHAN

di sepanjang jalan aku menyebut
sesuatu yang merinding ketika diucapkan.
Tuhan, lebih merinding ketika sahabatku yang
berpenampilan preman mengajarkanku
“syukur”
Tuhan, hiasan-hiasan dunia itu kadang
menyakiti mataku dengan silaunya.
Ketika “syukur” terngiang, aku menunduk
malu sedang gerimis ikut menampar wajahku
Tuhan, aku berterimakasih atas bunga, madu, sarang, dan segalanya
Tapi,
aku masih suka menyebut itu
aku tak tahu,
tidak tahu
Saifuddin A 14:12, 3 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s