GURU BARU

Guru Baru
Oleh: Saifuddin Amrullah, S.Pd.
Dikarang tanggal 22 Juni 2013, jam 22:42

Pagi itu, Eli kelihatan gusar. Ia tidak seceria hari-hari sebelumnya. Ia memukul-mukulkan pensil ke meja. “Tok.. tok .. tok.. tok!” menimbulkan suara gaduh. Siti teman sebangkunya kelihatan kesal dengan tingkah aneh Eli. Dengan spontan, ditangkapnya pensil Eli. “Stop!! Gaduh, tahu gak?” bentak Siti.
“Apaan, sih. Aku mau gini mau gitu terserah aku. Jangan atur hidupku. Kalau gak suka, nyingkir sana!” Kata Eli tak kalah sengit. “Kamu tuh kenapa sih, El? Aneh gitu tingkahmu dari tadi. Ada masalah?” selidik Siti.
“Eh, Siti! Dengerin ya! Kita bakalan kedatangan guru agama yang baru!” Kata Eli
“Lha terus, Pak Tiyo mau pindah apa? Kok ada guru agama baru?”
“Iya, dia akan ditempatkan di SMP 2. Sebagai gantinya, kita akan mendapat guru baru. Pak Addin namanya.” Ujar Eli sengit.
“Kok kamu bisa tahu semua? Dapat bocoran dari siapa?” tanya Siti terbengong-bengong seolah tak percaya.
“Minggu kemarin kamu kan gak masuk, Siti. Kamu izin karena badanmu meriang, kan?”
“Eh, iya. Benar. Lha terus?”
“Kemarin udah tunjuk muka, mengajar perdana. Orangnya tidak seganteng Pak Tiyo. Agak sedikit tua. Pokoknya tidak gaul seperti Pak Tiyo. Lihat wajahnya saja aku udah eneg. Kalau ditaksir, kita sekarang sama aja mengalami defisit guru cakep. Paham gak loe?” cerocos Eli seperti suara kereta api.
“Ya, gak boleh begitu lah, Eli. Apa pun keadaan guru pengganti Pak Tiyo, harus kita terima dengan senang hati. Toh, tugas mereka sama, yaitu membuat kita jadi pintar. Masalah penampilan mungkin saja kalah segala-galanya. Tapi, manusia kan ada kurang dan lebihnya.” Tukas Siti mencoba bersikap bijak.
“Sok alim kamu. Lihat saja nanti jam ke empat. Nanti ada pelajaran agama” Eli sewot.
Beberapa saat kemudian, Pak Tiyo masuk kelas. Ia membawa beberapa roti dan permen. “Anak-anak, hari ini adalah hari terakhir saya bertemu kalian. Bapak akan mengajak kalian untuk berfoto bersama dan makan-makan.”
“Horeee!!!” Teriak anak-anak kegirangan.
“Wah, Pak Tiyo baik sekali. Kami akan kehilangan guru yang baik hati dan cakep seperti Pak Tiyo.” Kata Eli yang memang fans berat Pak Tiyo.
“Jangan begitu, Nak. Kalian akan mendapatkan guru pengganti yang tidak kalah ilmunya dengan saya.” Kata Pak Tiyo bernada bijaksana. Tidak lupa, senyum simpulnya selalu ikut serta.
“Tapi, Pak. Kami lebih suka diajar sama Pak Tiyo” Kata Eli manja.
“Saya tahu Eli, tapi bagaimana lagi. Saya mendapatkan tempat tugas yang baru di kota” Kata Pak Tiyo kalem. “Eli masih bisa kok kabar-kabar lewat SMS” tambah beliau.
“Tapi tidak akan seperti dulu, Pak. Kita tidak akan sering bertemu seperti saat ini”
“Tenang, kalian adalah murid-murid yang paling aku sayangi. Sekarang, ayo kita keluar kelas. Kita berfoto-foto bersama.” Ajak Pak Tiyo yang rupawan itu. Murid-murid mengikuti Pak Tiyo untuk berfoto bersama. Ibu kepala sekolah diam-diam melihat mereka dari jauh. Sungguh, Pak Tiyo memang sangat membanggakan. Ia bisa begitu dekat dengan anak-anak. Beliau mulai ragu dengan guru baru yang akan datang, yaitu Pak Addin. Apakah Pak Addin akan diterima anak-anak seperti Pak Tiyo yang kharismatik?
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Anak-anak telah beberapa pertemuan diajar oleh Pak Addin. Tidak ada yang istimewa. Memang benar apa yang dikhawatirkan oleh ibu kepala sekolah. Pak Addin tidak seperti Pak Tiyo. Ia memang ramah, tetapi tidak bisa sedekat dan seerat Pak Tiyo ketika bersama anak-anak. Maklumlah, Pak Addin tidak setampan Pak Tiyo, tidak semerdu suara Pak Tiyo, tidak serapi penampilan Pak Tiyo. Ia bukan figur idola. Ia guru yang sangat biasa.
“Bu, Anik!” teriak Eli mengagetkan ibu kepala sekolah
“Haduh, bikin kaget saja kamu, Eli!” kata Bu Anik seraya mencubit Eli. Jantungnya serasa copot oleh teriakan Eli. “Ada apa Eli?”
“Bagaimana kabar Pak Tiyo, Bu?” tanya Eli
“Loh, kamu masih tanya soal Pak Tiyo. Udah tiga bulan pindah ya? Terus terang ibu tidak tahu bagaimana kabar beliau. Kenapa, sayang?”
“Kangen aja, Bu sama Pak Tiyo. Pak Addin tidak asyik.” Kata Eli ketus.
“Masyaalloh, Eli. Kamu gak boleh begitu sama gurumu. Siapa pun beliau, kamu harus hormat dan menghargai. Mereka adalah orang yang telah berjasa mencerdaskan anak bangsa seperti kamu.” Nasihat Bu Anik.
“Iya, sih Bu. Kalau begitu saya mau kembali ke kelas. Sebentar lagi pelajaran Pak Addin.” Kata Eli kecewa karena tidak mendapat kabar terbaru dari Pak Tiyo.
Beberapa menit berlalu, Pak Addin masuk ke dalam kelas. “Anak-anak, hari ini kita akan membahas surat Al Lukman. Eh, sebelum pelajaran kita mulai, Bapak punya sesuatu untuk kalian.” Kata Pak Addin seraya meletakkan tas plastik besar di atas meja.
“Wah, apaan tuh, Pak?” Tanya Siti semangat.
“Roti pisang. Alhamdulillah, Bapak kemarin panen pisang, anak-anak. Terus dibuat roti sama istri saya. Tugas kalian nanti sehabis pelajaran ini adalah mencicipi roti bikinan istri saya. Setelah ini kan jam istirahat?” Kata Pak Addin ramah.
“Yah, roti pisang. Pak Tiyo biasanya bawa cokelat, Pak!” Protes Eli.
“Eli, kamu gak ingat inti pelajaran agama minggu kemarin? Jangan pernah mencela makanan. Itu rizki dari Alloh. Mencela makanan sama saja mencela nikmat dari Alloh. Dosa loh, kamu!” Kata Siti tegas.
“Sudahlah. Maafkan Bapak, ya Nak Eli. Lain kali, Bapak akan membawa coklat. Makasih juga Siti, kamu pintar. Masih mengingat-ingat pelajaran kemarin.” Kata Pak Addin. Tidak biasanya, Pak Addin kelihatan pucat. Mungkin kelelahan memanen pisang-pisangnya. Siti berinisiatif membagi-bagikan roti kepada teman-temannya. Ketika mengambil bungkusan roti itu, Siti melihat baju Pak Addin kotor. Siti bertanya,”Pak, kok bajunya kotor. Tuh ada yang sobek di lutut”
“Iya, tadi waktu bawa bungkusan roti, Bapak terjatuh di tanjakan, Siti.” Kata Pak Addin.
“Tapi, tidak apa-apa, kan Pak? Tanya Siti khawatir.
“Untunglah, Bapak memakai helm. Tapi, helm Bapak pecah terbentur batu di tempat Bapak jatuh.” Kata Pak Addin sesekali memegang keningnya.
“Pusing, ya Pak?” Tanya Agus yang ternyata mendengar dan mengamati percakapan Pak Addin dan Siti.
“Sedikit, Agus. Tapi tidak apa-apa kok, tidak luka.” Jawab Pak Addin menenteramkan.
Setelah mereka mendapat roti, Pak Addin menjelaskan surat Al Lukman. Anak-anak desa itu memperhatikan dengan sungguh-sungguh pelajaran yang disampaikan Pak Addin. Walaupun tidak semahir Pak Tiyo, kelihatan sekali Pak Addin berusaha untuk bersungguh-sungguh menyampaikan materinya.
“Sekarang kalian bisa mencatat tafsir ayat ini. Tulisan yang rapi ya, anak-anak!” kata Pak Addin. Tiba-tiba Pak Addin terbatuk-batuk. Hidung beliau mengeluarkan darah. Segera Beliau mengambil sapu tangannya. Siti bertanya,”Pak, mimisan tuh. Kalau sakit, Bapak istirahat saja.”
“Oh, tidak apa-apa, Siti. Kamu lanjutkan mencatatnya.” Kata Pak Addin. Beliau duduk kembali ke kursinya. Darah masih belum berhenti mengucur dari hidungnya.
Tett…teeetttt……teeeeeetttt…..teeeet…… bel istirahat berbunyi.
Pagi itu, Eli berangkat agak siang. Ia kelihatan ceria. Ia bersenandung sambil memilin-milin batang bunga melati yang dipetiknya di pinggir jalan. Ketika masuk ruang kelas, kelihatan Siti, Agus, dan teman-teman lain sibuk mengumpulkan iuran. Kelihatan, mata Siti merah seperti habis menangis.
“Ada apa, Siti? Kok matanya sembab begitu?” tanya Eli.
“Eli, …………” Siti berlari memeluk Eli. Ia menangis tak tertahankan.
“Kenapa, Siti? Ayo cerita dong, jangan buat aku bingung!” kata Eli melepaskan pelukan Siti.
“Pak Addin, Eli…. Pak Addin telah pergi..” kata Siti terbata-bata
“Hah? Horee!! Siapa penggantinya? Pak Tiyo mau ke sini lagi?” kata Eli begitu gembira. Guru yang dibencinya telah pergi.
“Dengar dulu, Eli. Pak Addin meninggal dunia!” kata Siti seru. “Beliau meninggal setelah sampai di rumah. Menurut dokter, Pak Addin mengalami pendarahan otak akibat jatuh kemarin. Pak Addin jatuh saat berusaha membawa plastik berisi roti pisang untuk KITA”
…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s