SAYA HANYA MANUSIA BIASA

Saya Hanya Manusia Biasa
Suatu ketika saya diajak Kepala Sekolah jajan lesehan. Beliau memesan nila bakar buat saya. Saya sedikit bingung dan heran. Biasanya paling banter aku ditraktir bakso atau mie ayam di Pasar Arjosari. Ketika selesai menyantap nila bakar, beliau berkata,”Pak Udin, sampeyan saya pilih jadi kesiswaan. Menggantikan Pak Hanifudin yang saya angkat menjadi wakasek.”
“Masyaalloh, Pak. Saya tidak bisa.” Jawab saya panik.
“Bisa, Pak Udin. Dicoba dulu. Toh, sampean pernah menjadi pembina OSIS selama satu tahun menggantikan Bu Lulut Fauziah yang pindah ke Trenggalek” Jawab kepala sekolah tenang.
“Saya tidak bisa tegas, Pak. Saya jadi pembina OSIS juga karena warisan jabatan. Saya hanya ingin bersama anak-anak dalam setiap kegiatan sekolah. Tidak pernah terpikirkan saya untuk menjabat kesiswaan yang begitu berpengaruh pada kedisiplinan sekolah. Saya bukan figur guru yang disiplin, saya takut akan mengecewakan Bapak.”
“Jangan menyerah sebelum mencoba. Saya mendukung sampean.” Kata Pak Kepala memberi dukungan.
Kemudian saya menjadi kesiswaan. Mulanya agak ragu, terasa sangat janggal dan lucu. Bahkan saya tidak bisa memimpin baris berbaris. Banyak yang lebih berkompeten dari saya, seperti Pak Suriyanto, Pak Sigit Setiasa, Pak Hari Krisyanto. Saya tidak bisa tidur. Saya benci kondisi ini. Apalagi saya pernah dimarahi sama kepala sekolah lama karena saya teledor dalam menyiapkan acara LDK. Saya memang bukan guru yang pintar seperti yang lain.
Ada hal yang membuat saya semangat. Saya pertama kali marah pada Asri. Wakil Osis yang super cerewet dan acuh. Saya minta dia membantu Lilis Sugianto, ketua Osis untuk menyiapkan perpisahan kelas 9, eh dia malah asik bermain dengan Nofianti, Linda dan teman-temannya. Saya ajak mereka rapat untuk pertama kali. Menyusun acara perpisahan yang baru pertama kali saya pimpin. Mereka akhirnya sepakat dan kompak untuk bahu membahu menyiapkan acara. Waktu itu, saya lihat bagaimana ketulusan mereka bekerja, diselingi canda dan tawa. Asri berkata,”Perpisahannya akan meriah, Pak. Tapi nanti kalau lulus, tolong perpisahan kami dibuat lebih meriah”
Kata-kata itu saya ingat. Mereka bekerja dengan “hati”, maka saya akan memperjuangkan keinginan mereka dengan “hati” pula. Saya mulai asyik terlibat dengan mereka. Dari generasi ke generasi silih berganti. Generasi yang paling kompak adalah pengurus Osis yang dipimpin oleh Eki Setiawan. Mereka seakan meniupkan roh semangat dalam jiwa saya setelah terluka dengan ketidakkompakan beberpa generasi sebelumnya.
Zaman keemasan Osis dengan sepenuh tenaga saya coba untuk mempertahankannya. Beberapa manuver saya kadang membuat kecewa dan terkadang terkesan angkuh dipandang. Hingga saya kadang berselisih dengan guru-guru lain. Suatu ketika, saya sadar. Saya memang tidak mampu menghidupkan Osis tanpa anak-anak yang berkompeten. Saya hanyalah figur yang “menjembatani” peran mereka berkreasi dan berkarya.
Malam hari, selesai salat magrib saya bertamu ke rumah kepala sekolah yang baru, Pak Imam. Saya minta undur diri dari kesiswaan. Saya menangis melihat bagaimana anak-anak itu membutuhkan figur yang lebih mampu untuk memimpin mereka sedangkan ekspresi mereka terhambat oleh saya yang mungkin kurang kreatif.
Pak Kepala mengatakan, kalau saya menyerah, bagaimana dengan anak-anak? Fokuskan mereka pada kesibukan ketika mereka kurang kreatif. Hidupkan Pramuka untuk membuat mereka sibuk.
Ditangan Mas Erwin, Pramuka menjadi aktif dan kreatif. Bahkan mendapat acungan jempol dari sekolah lain lewat blog yang saya buat. Beberapa kegiatan sukses ditangan Mas Erwin. Anak-anak termotivasi untuk ikut menyemarakkan Osis dan Pramuka. Kini Pramuka dirundung masalah. Mungkin, pikiran saya terpecah untuk “menyiapkan” kelas 9 menghadapi UNAS, saya juga menjadi tidak fokus untuk mendidik kelas 9 ke arah prestasi terbaik. Beberapa masalah timbul. Kenakalan anak-anak kelas 8 dan 9 menjadi-jadi.
Kini saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membangkitkan Pramuka. Saya hanya berharap, anak-anak mampu untuk melanjutkan tongkat estafet kepanduan mereka. Saya juga gagal untuk melanjutkan ekstra seni musik, kekurangan dana mengakibatkan saya dan anak-anak terkadang harus “urunan” membeli perlengkapan musik seperti kabel dan senar yang putus. Kesibukan tugas administrasi kesiswaan, mengajar kelas 9, pelatihan ke Malang, dan sebagainya tidak bisa saya atur dengan bijaksana.
Saya mengakui, saya sangat tidak percaya diri tanpa “senyum bahagia” anak-anak Osis. Jika misalnya, seseorang ingin membunuh saya, pastilah mudah jalannya. Hapus saja senyum anak-anak Osis itu dari wajah mereka. Pasti, saya pun akan terhapus senyum dan gairah hidup saya mengajar. Saya terlanjur mencintai mereka.
Saya sering menulis di FB, “Ya Alloh, aku capek. Cuma sebuah senyuman yang bisa membuat saya kembali segar.”  Maksud senyuman itu adalah “kegembiraan anak-anak itu”. Merekalah obat ketika lelah, canda tawa dan kepolosan mereka menghibur hati saya. Beratnya hati saya mendaki bukit Petungsinarang jika tanpa ketulusan senyum mereka.
Dengan segala kebodohan saya, saya sedih. Saya bukan figur guru ideal yang mereka harapkan. Saya berulang kali menulis di FB saya, “Jika otak saya 5 kali lebih cerdas dari kondisi sekarang”. Itu saya tulis karena saya ingin menjadi

image

yang terbaik untuk memimpin mereka. Apalah daya, saya sudah mencoba. Mungkin saya tidak mampu menjadi segalanya. Saya membenci keterbatasan kemampuan saya. Saya ingin anak-anak mendapatkan guru terbaik mereka, lebih dari saya.

One thought on “SAYA HANYA MANUSIA BIASA

  1. Just want to say your article is as surprising. The clearness in your put up is simply nice and i could assume you’re a professional on this subject. Well together with your permission allow me to grab your feed to keep updated with impending post. Thank you 1,000,000 and please keep up the enjoyable work.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s