Mencinta itu tidak mudah

Cinta itu Tidak Gampang
Oleh: Saifuddin Amrullah, S.Pd.
Pacitan, 20 Februari 2013; 22:37 WIB

“Sudahlah Wulan, kalau sudah takdirnya berakhir, biarkan ini berakhir ” Kata Saipul lirih. Ia tidak membuang muka, tidak juga beranjak pergi meninggalkan Wulan. Tangan Saipul hanya menyentuh lemah pundak Wulan dan kemudian menepuk-nepuknya pelan. “Kita pulang”
Wulan hanya terdiam. Ia mengikuti Saipul beranjak pergi. Tampak butiran pasir yang masih basah melekat di sandal kedua remaja tersebut. Tak segurat pun senyum tampak di wajah Wulan. Kelam, sekelam langit sore yang seakan turut berduka dengan kisah sedih perjalanan cinta mereka. Sayup terdengar camar masih berteriak-teriak di langit yang mulai gelap.
“Kang, … maafkan aku” suara serak Wulan tiba-tiba seakan memecah dominasi gemuruh deru ombak sore itu.
“Untuk apa?” jawab Saipul seakan tak terlalu memerhatikan. Ia melipat mantel hujan yang tadi mereka gunakan saat menuju pantai.
“Kang,..!” Wulan mencoba kembali bersuara. Tapi terhenti seketika. Lidahnya terlalu kelu untuk melanjutkan jutaan rangkaian kata yang memenuhi otaknya. Ia hanya menggenggam erat pergelangan tangan Saipul, seolah menyuruhnya berhenti mengacuhkannya.
“Ayolah, naik. Sudah sore, Dik” jawab Saipul sembari melepas tangan Wulan yang masih menggenggam erat pergelangan tangannya.
“Kenapa?” tiba-tiba Wulan berbicara agak keras.
“Kenapa bagaimana?” Saipul tidak jadi mengengkol motornya.
“Segampang itu, Akang menyerah.” Jawab Wulan, tangannya menyingkap poni yang menutupi mata kirinya. Ia membelakangi Saipul sekarang. Ia memandang matahari terbenam di pantai itu. Kabut tipis mulai berarak turun, dingin mulai menyentuh.
“Apa yang mesti akang lakukan, Dik Wulan?”
“Tidakkah Akang berniat untuk memperjuangkanku?” jawab Wulan tanpa ekspresi. Masih tetap membelakangi Saipul.
“Segalanya jelas, Dik Wulan. Aku tidak akan bisa.”
“Akang bisa, jika benar-benar sayang Wulan!”
“Akang yang tak akan bisa memposisikan diri di mata Abah. Abah sudah punya pilihan lelaki terbaik untuk Wulan. Lelaki yang mapan. Pegawai sebuah perusahaan besar. Sedangkan Akang? Hanya seorang guru di madrasah tsanawiyah. Belum lagi, Emak. Emak paling rajin memasang wajah sinis, ketika Akang bertamu ke rumah Dik Wulan.”
“Cinta tidak diukur dari uang, Akang” Wulan melirik sesaat ke Saipul, kemudian menghadap kembali ke cakrawala pantai. “Kebahagiaan itu subjektif” lanjutnya bernada ketus. 
“Akang tahu, Wulan..”
“Dan, cinta itu perjuangan, Akang! Hanya lelaki pengecut, yang tak bisa memperjuangkan cintanya”
“Apakah, Akang termasuk yang itu?”
“Kang, Wulan hanyalah seorang anak perempuan. Wulan tak mungkin menolak ketetapan Abah sama Emak. Wulan tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali, Akang yang berjuang untuk mendapatkan Wulan. Wulan menerima keputusan Abah, karena Akang Saipul pasif, p a s r a h !” cerocos Wulan.  Ia menyahut helmnya. Ia hempaskan pantatnya ke boncengan. Saipul hanya diam. Hatinya berontak. Ia mungkin memang termasuk laki-laki seperti itu. Saipul yang pesimis. Saipul yang hanya diam ketika cintanya terhempas badai. Di staternya motor itu kencang. Ditariknya gas, dilepaskannya tuas kopling. Asap mengepul membumbung tinggi. Menuju langit. Tercerai berai oleh hebatnya angin pantai. Asap memudar, asap menghilang. Hilang seperti harapan Saipul. Memang Wulan benar, cinta itu butuh untuk diperjuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s