Ustadku, Ustad Mahmudin

Ustadku, Mahmudin
Asli Karya Saifuddin Amrullah, S.Pd.
Special for my students on Bandar 2 Junior High School

“Mak, minta izin. Mau ngaji di tempat Ustad Mahmudin” Kata Astri sambil mencium tangan Emak.
“Iya, hati-hati di jalan ya, Nak.” Kata Emak tersenyum bangga pada putrinya.
“Ayo, Astri! Keburu telat neh!” Kata Faradilla yang sudah menunggu di luar rumah.
“Iya, sabar Dilla. Ini sedang betulin kerudung baru,” sahut Astri sembari bergegas menyambar tasnya. Sampai di depan Faradilla, ia bergaya seperti peragawati. Memutar badan di depan Faradilla yang udah lumutan menunggu Astri berdandan.
“Gimana Dilla? Penampilanku. Hehehe… Kerudung baru nih. Warna coklat bepernik palet warna-warni.” Pamer Astri begitu lebainya. Grubyaakkk!!!
“Iya, udah cantik kok. Segitu amat sih, dandannya. Cuma mau ngaji doang, mpe setahun aku nunggu selesai.” Jawab Faradilla sewot. Walau bibirnya ditekuk-tekuk, tapi tidak kalah cantik dengan Astri. Kedua gadis belia itu murid madrasah tsanawiyah diniah Failin Choir. Mereka belajar mengkaji ilmu agama di sekolah itu.
Mereka berjalan bergandengan tangan, bercanda, saling menggoda. Kadang terdengar Astri tertawa lepas, sambil menepuk-nepuk pundak Faradilla. Faradilla hanya tertawa kecil. Mereka memang berbeda sifat. Faradilla cenderung kalem, sedang Astri periang. Justru dengan perbedaan itulah mereka akrab bersahabat sejak duduk di bangku TK. Kata Ustad Mahmudin, perbedaan itu berkah. Dengan perbedaan, umat manusia belajar untuk menghargai satu sama lain. Dengan perbedaan, umat manusia dapat saling melengkapi dengan peran dan keahlian mereka masing-masing.
“Eh, sudah tiga pertemuan aku gak ketemu sama ustad Mahmudin. Hehehe… kangen deh.” Kata Astri sambil menunduk, pandangannya tertuju pada kaleng susu milk di depannya. Begitu dekat, ia tendang kaleng itu keras-keras. “Klontaaannggg!!!”
“Astagfirullah, Astri. Bikin kaget aja sih kamu.” Faradilla menghentikan langkahnya.
“Hahaha…kaget, ya? Makanya, kalau di ajak ngobrol jangan melamun” Astri malah  tertawa ngakak.
“Iya, aku dengar kamu tadi cerita soal ustad Mahmudin. Aku gak tuli kali, As..” jawab Faradilla melanjutkan langkahnya.
“Salahnya sendiri, tiga hari kamu nggak masuk. Ketinggalan info deh.” Lanjut Faradilla.
“Iya, habis…, bagaimana lagi. Aku sakit demam. Mungkin, demam asmara. Kikikik.” Seloroh Astri sambil mencubit pinggang Faradilla.
“Hadduuhhh!! Kira-kira kale, kalau nyubit. Sakit tahu.!!” Kata Faradilla meringis kesakitan. “Emangnya kamu demam asmara sama siapa? Ustad Mahmudin? Hahaha. Ngaco lo, As..!”
“Yee, gak pa pa kale Dilla. Cinta itu universal. Hehehe. You know? Love is blind.” Jawab Astri sok keinggris-inggrisan. Padahal nilai bahasa Inggrisnya dapat dua koma enam di try out. Ckckckck….
“Halah, gayamu As. Penyakit lebaymu itu akut banget tau!” Jawab Faradilla singkat.
Tak terasa, langkah mereka telah sampai di gerbang madrasah. Sudah terdengar doa-doa melantun dari segenap penjuru madrasah. “Tuh, kan As. Kita udah telat nih.” Kata Faradilla panik.
“Biarin. Emang aku sengaja kok.” Kata Astri menyeringai licik
“Hah? Gila kamu. Kita bisa dipanggil Ustad Mahmudin, tahu?”
“Emang. Biar ketemu sama beliau. Hahaha. Biarpun di hukum, yang penting bisa menatap wajahnya yang tampan. Kikikikik”
“Ehm..ehm….!” tiba-tiba terdengar suara berwibawa dari arah kanan. Tampak Ustad Hanif sudah memasang muka mengerikan. Haduhh. “Kamu Dilla sama Astri, kok terlambat. Sini!”
“Wah, kita dipanggil ke ruang Ustad Dilla, asyikkk!” kata Astri melenggang menuju ke arah ruang Ustad.
“Jiah, anak itu. Saraf bener neh.” Kata Dilla yang sudah gemeteran.
“Ehm, kenapa kamu terlambat?” Kata Ustad Hanif.
“Maaf, Ustad. Tadi Astri sudah saya suruh cepat-cepat dandannya, tapi malah santai-santai begitu. Jadinya terlambat Ustad. Maaf, tidak saya ulangi.” Kata Faradilla ketakutan.
“Kalau kamu?”
“Ehmm, eh, saya Ustad? Eee… begini ustad. Duh,….tadi tidur siangnya agak kebablasan. Bukan salah Dilla ustad, tapi salah saya. Maaf.” Kata Astri sekenanya. Matanya menelusuri seluruh ruangan ustad. “Ustad Hanif, eh, boleh tanya?”
“Iya, tanya apa?” jawab Ustad Hanif tanpa memandang kedua anak itu. Beliau sedang sibuk mengetik berkas-berkas.
“Ustad Mahmudin kemana ya, Pak?” tanya Astri galau.
“Oh, …. Ustad Mahmudin. Bentar lagi beliau datang. Kamu Astri Wiranto kan? Anak Pak Wiranto, juragan tahu dari desa sebelah?” Kata Ustad Hanif.
“Iya, Pak.” Jawab Astri singkat.
“Ada titipan dari Ustad Mahmudin. Kamu kemarin mendapat nilai tertinggi dari hapalan hadits.”
“Iya, donk Ustad. Pak Mahmudin kan idolanya Astri” serang Faradilla gencar. Sindirannya pas nancap. Hehehe.
“Halah. Kamu sok tahu, Dill” kata Astri. Pipinya memerah malu. Makanya, Ustad Mahmudin memanggilnya Astri Humairah, artinya si merah delima. Pipinya terlihat memerah jika tersipu malu.
“Ini buku kumpulan hadits nabi dan sejarah Islam buat kamu.” Kata Ustad Hanif menyerahkan buku hadiah.
“Cie..cie..cie…”  kata Faradilla mengejek.
“Assalamualaikuuuuummmmm” terdengar suara merdu dari luar.
“Waalaikum salaaaammm” jawab mereka yang di dalam serempak.
“Eh, ustad Mahmudiiiiiiinnnn….. “ Astri histeris, menghambur ke arah ustad. Ia mencium tangannya tanda hormat. Diikuti Faradilla yang melangkah lebih kalem.
“Lho, kalian kok tidak masuk kelas? Terlambat ya? Hukumannya nulis Al Fatihah sepuluh kali loh.” Jawab Ustad Mahmudin yang tampan itu. Glodiakkk!!!!
“Tuh, kan As… aku ikutan kena hukuman deh. Nasib-nasib.” Kata Faradilla menepuk jidatnya sendiri.
“Eh, Astri. Kamu sudah sembuh?” kata Ustad Mahmudin sembari membetulkan pecinya.
“Alhamdulillah, sudah Ustad.” KataAstri cengar cengir. Faradilla kaya patung tak berkomentar.
“Nih si Astri, ustad. Gak semangat belajar kalau nggak ada ustad Mahmuddin” protes Faradilla.
“Loh, kok begitu. Kalau saya nggak ada, berarti Astri nggak mau belajar agama dong. Padahal…” Ustad Mahmuddin terdiam.
“Padahal kenapa, Ustad?” Astri menyahut cepat.
“Padahal, ustad Mahmuddin mau pindah ke Pondok Pesantren Assalam Solo, Astri.” Kata Faradilla memotong cepat, sebelum kata-kata keluar dari bibir ustad Mahmuddin. “Makanya, tadi aku bilang, kalo kamu tuh ketinggalan informasi” lanjut Faradilla ketus, sambil menyedekapkan tangannya. Persis kaya sinetron di tivi-tivi itu gayanya.
“Yah… kamu kok gak bilang-bilang dari tadi sih, Dill.” Mata Astri berkaca-kaca.
“Astri, santriwatiku yang pintar. Belajar agama itu ibadah. Bahkan kita diwajibkan menuntut ilmu sejak dari lahir hingga ke liang lahat. Belajar agama itu kudu ikhlas lillahi ta’ala. Semua diniatkan ibadah kepada Allah. Jangan belajar agama karena ada maksud yang lain. Misalnya karena ada ustad yang disukai, teman yang diidolakan, atau ingin mendapatkan pujian dari orang lain.” Kata Ustad Mahmuddin dengan suara lembut menyejukkan. Cless…
“Dalam surat Al Zumar ayat dua dijelasin, hendaklah engkau menyembah Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya segala ibadahmu. Nah, termasuk diantara ibadah adalah menuntut ilmu. Niatkanlah iklas mengharap ridhoNya. Jangan beribadah kepada Alloh karena mengharap sesuatu yang lain.” Ustad Mahmuddin menambahkan.
“Siapa yang menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas, dia mendapat kehormatan sebagai mujahid,  pejuang Allah. Bahkan kalau mati dalam proses mencari ilmu, dia akan diganjar dengan gelar syahid.” Ustad Mahmuddin menyelesaikan nasihatnya.
“Tuh, dengerin As. Kudu iklas kalau mau cari ilmu.” Kata Faradilla menegaskan.
“Iya, Pak Ustad. Maafin Astri ya. Astri berjanji, akan belajar dengan sungguh-sungguh. Biar nanti Astri bisa jadi ustadzah, biar bisa memberi nasihat seperti Ustad Mahmuddin.” Kata Astri dengan wajah manis tanpa dosa.
“Alhamdulillah, Astri memang santri yang pintar. Rawat buku hadiah tadi dengan baik ya, baca isinya, dalami maknanya. Semoga Astri bisa menjadi ustadzah idola. Amin” kata Ustad Mahmuddin kalem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s