Bercerita dengan Komik

Bercerita dengan Komik

oleh Saifuddin Amrullah

Kelas 9B termasuk kategori kelas medium. Jauh dibandingkan dengan kelas 9A. Motivasi merekalah yang membuat saya kagum. Mereka ingin sejajar dengan kelas 9A yang “konon” dipandang sebagai kasta tertinggi dari kelas lainnya dari tahun-ke tahun.

Ketika kelas 9A tampil antusias dan mempersembahkan tampilan yang terbaik saat bercerita, tidak demikian halnya dengan kelas 9B. Mereka hanya terkagum-kagum dengan tampilan kelas lain yang telah melegenda sebagai kelas para raja.

Praktik bercerita dengan analisis alur telah dijalankan. Hasilnya gagal total. Saya merasa kasihan dengan murid yang sebenarnya berpotensi, tetapi mereka merasa telah kalah sebelum bertanding.

Suatu ketika, di rumah, saya melihat anak menggambar. Saya bertanya, “Kamu menggambar apa, Dik?”

Anak saya menjawab, “Komik, Pak.”

“Ceritanya tentang apa nih?”

“Ini cerita ketika aku bermain di sekolah, temanku nakal, ia mendorongku sampai jatuh”

Anak saya menceritakan dari gambar pertama sampai akhir sebuah kronologi kejadian ketika ia terjatuh di sekolah. Kalau anak seusia delapan tahun mampu bercerita dengan detail dan urut, dengan menunjuk serta mengilustrasikan gambar sederhana, pastilah anak usia 15 tahun seperti murid saya akan lebih canggih lagi nantinya. Media gambar untuk membantu memahami urutan alur cerita dan membantu mereka untuk bercerita tanpa teks.

Saya mencoba memilih cerita sederhana dan mencoba menerjemahkan alur ke dalam bentuk gambar komik.

Di sekolah, saya suruh anak untuk membaca cerita dan memahaminya. Saya juga meminta mereka untuk mengingat-ingat runtutan cerita dan peran para tokohnya. Pada tahap selanjutnya, saya minta mereka untuk memilih gambar yang terpotong acak. Tiap potongan gamber itu sebenarnya adalah adegan/bagian tiap alur. Siswa ternyata mampu memilih gambar sesuai cerita, mengurutkan, dan merangkaikannya.

Komik tersebut terdapat bagian kosong di belakangnya untuk diisi dengan kutipan /pokok cerita sesuai dengan ilustrasi gambar. Mereka mampu menyelesaikannya dan menjelaskannya di depan kelompok lain. Baru saya jelaskan kemudian, bahwa secara tidak langsung mereka telah menentukan sebuah tahapan alur cerita. Wah, mereka sangat senang. Mereka mengatakan, ternyata cukup mudah memahami cerita dengan media komik.

Lalu saya menyuruh mereka untuk tampil bercerita di depan kelas. Lela Anggraini tampil walau sedikit malu-malu. Ajaib, ia bercerita dengan lancar dan percaya diri. Apalagi dengan bantuan gambar, ia mengaku tidak merasa mati kutu. Ia memanfaatkan gambar tersebut untuk berekspresi layaknya seorang pencerita profesional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s