JILBAB SI DEWI

Oleh : Saifuddin Amrullah

Jilbab-jilbab Putih
Lambang kesucian
Lembut hati penuh kasih
Teguh pendirian

Jilbab-jilbab Putih
Bagaikan cahaya
Yang bersinar di tengah malam gelap gulita
….

Dewi berjalan dengan semangat menuju ke sekolah. Tap! Tap! Tap! Langkahnya mantap. Mendaki jalanan terjal pagi itu. Jilbabnya berkibar putih, bersih, bercahaya diterpa surya, berwajah ceria menjinjing tasnya. Dari mulutnya terdengar dendang lagu-lagu kasidah yang merdu. Hatinya sedang gembira rupanya. Hemm, kenapa dia begitu gembira pagi itu? Pembaca dikasih tau gak, yaa? ^-^
Okay, All right, ceritanya begini nih. Dewi telah memutuskan untuk memakai jilbab mulai pagi itu. Start from today, I will use Jilbab chlotes. Kenapa? Because, this is one of the rules of my religion, Islam. Hehehe, artinya neh, Jilbab adalah salah satu aturan berpakaian dalam Islam. Terutama kaum hawa. Dewi tidak akan khawatir teman-teman akan memandang aneh. Biarin dibilang tumben, biarin mereka bilang “wow” geto, biarin aja mereka berkata, “Ciyuss lo mau berjilbab, Wik?”
Dewi bahkan merasa seratus persen lebih “Pede” memakai jilbab. Ini pilihan hidup gue. Jilbab gak identik dengan cara pandang konservatif alias kolot. Eits, bukan KOLOT IJO. Hehehe…
Keyakinannya semakin bertambah ketika sampai di pintu gerbang sekolah, ia bertemu dengan Pak Addin. Guru bahasa Indonesianya yang sangat sholeh itu. (Kikikik maaf ea kalo narsis – pengarang).
“Assalamualaikum, Pak Addinn” sapa Dewi dengan suaranya yang merdu. Ia tersenyum, membungkuk sebentar, terus tegak lagi berdiri. Seperti orang jepang yang memberi salam. “Haaiiikkk!!!”
“Waalaikum salam, eehhh…. siapa ea?” Pak Addin seperti tak mengenali Dewi dengan style barunya. Guru yang paling baik hati sedunia akhirat itu tertegun sejenak. Baru ia nyadar, gadis cantik bertubuh tinggi semampai itu adalah Dewi Astiti. Ckckckck… dramatis banget adegannya.
“Owh… Dewi, hahaha, haduh sampai aku gak kenal. Aku kira kamu adalah bidadari yang turun dari langit ke tujuh, sayapnya ilang, gak bisa pulang, dan tersesat ke dalam hatiku yang selalu tercipta untukmu. Cie cie cie.” Kata Pak Addin yang terkenal sedikit lebay ituch.
“Ah, Pak Addin bisa ajah. Mari, Pak. Saya ke kelas dulu.” Jawab Dewi kalem.
“Oh, tentu dear. Please, becareful honey…” sambut Pak Addin yang masih terheran-heran.
Di lorong sekolah, ia bertemu dengan si Fita. Fita udah terlebih dulu pake jilbab. Fita senang sekali, sekarang ada temennya yang juga berjilbab.
“Hai, Fita? Gimana penampilan aku sekarang?” Dewi berputar, kaya model gitu deh.
“Wah, keren. Aku suka banget dengan gaya kamu yang sekarang.” Puji si Fita.
“Ciyuss? Mi Apa?” Jawab Dewi
“Mie Ayam, Wiikk! Hahaha” Mereka berangkulan menuju kelas. Pagi itu terasa ceria.

Well, not everyone could accept for what we have done. Gak setiap orang itu menyambut baik atau menerima atas apa yang telah kita lakukan. Banyak sih, yang suka ketika Dewi memutuskan memakai jilbab. Tapi, ada juga loh yang kurang suka. Do you want to know what is the next story? Ceck it out beibs!
“Wah, baju model baru ea?” kata si Fatiah teman sekelas yang berdiri di depan pintu.
“Wow, iya neh kayaknya” susul si Icus sedikit mencibir
“Duh..duh… ada yang pake jilbab rupanya,” tambah si Donita sambil berkacak pinggang. (Jiah, kok jadi kaya sinetron remaja gini ea cerpennya. Maaf ya pembaca. Kepaksa neh. Udah malem saat cerita ini dibuat si mas pengarang. Mas pengarang udah ngantuk banget. So, its okay kan?)
“Dona, Fatiah, Icus and all my hearthed friends. Why do all of you look surprised? “ Dewi mencoba mengklarifikasi.
“Sejak kapan kamu sok alim gitu, Dewi?” protes Fatiah, the leader of chibi chibi club (pemimpin klub chibi chibi) di kelas 9 F.
“Emm…” Dewi kebingungan ngejelasin. Mukanya jadi semrawut dikit. Tapi, masih kiyut kok. Hehehe.
“Kalo kamu pake jilbab kaya geto, gimana dengan klub kita, Wik?” Donita pasang muka judes. Hiii… seyeemmm. Kabuuurrrrrr!!!! (lah, kalo yang nulis kabur, cerpennya gak bakal lanjut dong. Yang bener aja kalo ngarang, Mas.)
“Iya neh. Mosok ada girl band aliran K-Pop Korea kaya grup kita, ada yang pake jilbab. Emang kita grup kasidah apa?” Cerocos si Icus yang sebenarnya manis itu. (Tapi masih manis yang ngarang cerpen ini. Suer broo!!)
“Ee….” lagi-lagi Dewi jadi bisu mendadak. Lidahnya kelu. Gimana bisa membela diri kalau dikeroyok kayak gitu. (Kasihan kan, pembaca? Siapa mau bantu ngebelain? Hemmm…)
Tiba-tiba bel masuk berdentang. Anak-anak duduk di bangkunya masing-masing (ya iya laaahhh, masa di bangku tetangga). Jam pertama, pelajaran Agama Islam. Bu Mahfudz masuk kelas dan beliau mengajar tentang aurat wanita dalam pandangan Islam. Pada dasarnya, seluruh tubuh wanita itu aurat, kecuali muka dan telapak tangannya. Nah, kalau aurat gak ditutup, dosa dong. Gitu kata Bu Mahfudz.
Alhamdulillah, kok pas materi itu yang diberikan sama Bu Guru. Hemm. Hati Dewi sedikit lega. Seolah ada kekuatan yang meyakinkan hatinya untuk istikomah. Tau gak lo, apa istikomah itu? Eits, bukan Siti Romlah, itu nama bu dhe nya si pengarang. Istikomah itu, teguh pendirian.
Ketika waktu istirahat tiba, Dewi kembali dihampiri temen-temen grupnya. Tampaknya, mereka semua masih belum bisa menerima perubahan Dewi.
“Dewi, elo masih mau jadi grup Chibi-chibi Cha cha kan?” Kata Fatiah mengultimatum.
“Lepas jilbab kamu, atau keluar dari grup?” Ancam si Diana, anggota grup itu juga. Heran deh, semua mengancam begitu.
“Ehm..ehm.. ehm…” terdengar suara berwibawa. Ternyata, wali kelas mereka tampak berdiri di belakang mereka. Jleb!! Semua terdiam. “Ada apa ini?” Kata Pak Setyo dengan nada G minor. Nada suara khas penyanyi lagu-lagu perjuangan. Kikikik.
“Oh, gak ada apa-apa, Pak.” Kata Dewi. Kita sedang diskusi tentang pelajaran bahasa Inggris. Kok susah gitu ya, Pak. “ Jawab Dewi berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Owh, soal itu. Itu karena kalian tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya mudah sekali kalian mempelajari bahasa Inggris. Cukup dengan menghafalkan seluruh isi kamus, kalian pasti bisa lebih mudah memahami artinya. Gampang kan?” Begitulah jawab Pak Guru. Beliau berlalu. Semribit wangi parfum beliau tertinggal di situ. Heheheh. Parfum yang menggoda. Ckikikik.
“Sorry friends, aku gak bisa nglepasin ini. Biarlah aku keluar dari Chibi-chibi. Gak apa-apa kok. Aku ingin belajar menjadi gadis muslimah sejati.” Kata Dewi berkaca-kaca. Duh, kasian ya pemirsa. Cup cup… jangan nangis dong ea.. ini kan Cuma cerita, santai sajalah kawan. Hehehe.
“Tapi grup gak lengkap tanpa kamu” sergah Dillta, sambil membetulkan poninya. Hehehe. Ia juga anggota grup itu. Kelihatan paling manja. Ia suka makan permen lolipop. Sehari, ia bisa habis sepuluh hingga dua puluh permen. Ih, boros. Hahaha.
“Kamu cari pengganti aja, Dill. Mungkin Eva atau Awe bisa menggantikan aku” jawab Dewi pasrah.
“ Apa? Eva? Dia kan penyanyi keroncong? Trus si Awe? Dia tuh gak bisa nyanyi, kan dia sukanya tereak-tereak di Pramuka. Kalo dia nyanyi telinga pendengarnya bisa pada rontok.” Sergah Diana. Tumben dia galak. Biasanya cuma curhat, nangis-nangis cerita soal pacar, nulis status-status galau di facebook atau apa geto. Ternyata bisa galak juga nih orang. Ckckckc.
“Tapi friends, aku tuh gak bisa kaya gituan lagi. Kecuali kamu biarin aku pake jilbab trus kita ganti aliran jadi Kasidahan gitu.”
“Ah, gak bisa.” Kata Donita. “Lo, gue, end!”
Mereka ngeloyor pergi. Dewi duduk sendiri. Langit siang itu mendung, rintik-rintik hujan mulai turun. Demikian juga air mata Dewi. Dewi sedih sekali, tapi ia harus tetap berjilbab, demi menjalankan syariat agama.
Dari kejauhan tampak Pak Addin membawa LCD untuk mengajar, Dewi menghampirinya.
“Saya bantu bawakan ya, Pak” kata Dewi menyembunyikan sedihnya
“Iya, Dewi. Makasih ea. Kamu dari dulu kok baik begitu, sih. Heran aku.” Kata Pak Addin seperti biasa, L E B A Y abis.
“Eh, mata kamu kok bengkak begitu. Habis nangis ea?” Selidik Pak Addin
“Ah, gak Pak. Em… sebenarnya, sih. Eee….” Dewi terbata-bata berkata. Apalagi di dekat guru yang sangat mempesona itu, dengan tatapan mata Pak Addin yang sangat teduh seakan menghipnotis seluruh kaum hawa di dunia. (Gubrak!!! Pembaca jatuh berjumpalitan!!)
Akhirnya, Dewi bercerita tentang kisahnya yang sedih. Sepanjang lorong itu, ia bercerita tentang semua permasalahannya. Pak Addin mendengarkan dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Intinya, Dewi telah curhat habis-habisan sama Pak Addin tentang masalahnya.
“Dewi, …..” Pak Addin mulai berbicara. Suaranya merdu sekali. Burung-burung turut bernyanyi ketika beliau bersuara. Nada dasar C = do. Kwkwkwkwkw.
Kembali ke dialog Pak Addin. “Dewi, …. ketika seorang hamba Alloh semakin meningkat kadar keimanannya, semakin hebat pula cobaan yang ditimpakan kepadanya. Itu sebagai ujian untuk menempa orang tersebut agar semakin kuat menjaga imannya. Sebagai ujian apakah ia memiliki sifat yang iklas dan ridho memperjuangkan ibadahnya. Perjuangan itu kan butuh pengorbanan? Bisa kehilangan sesuatu yang berwujud harta, benda, pangkat, kedudukan, juga sahabat atau teman. Tapi jika kamu berhasil melaluinya, maka derajat kamu semakin tinggi di mata Alloh”
“Iya, Pak. Makasih. Saya akan terus memakai jilbab ini. Saya bahkan akan mengajak teman lain untuk memakainya.” Kata Dewi semangat, ditandai dengan hadirnya senyum kecil itu kembali.
HP Dewi berbunyi, ringtone bersuara keras …. “no body no body but you, I said no body no body but you…” yang dinyanyikan Wonder Girls. Ternyata, SMS dari Arif, sang pacar yang bersekolah di sekolah lain. Dewi membaca sms itu.
“Dewi, tadi pagi aku lihat kamu berangkat ke sekolah pakai jilbab. Aku gak suka kamu pake jilbab. Seperti ibu-ibu pengajian saja. Lepasin atau kita putus!”
Dewi lemas, ia berhenti melangkah. Kakinya gemetar, tak kuasa lagi melanjutkan langkahnya. Dalam hati ia menjerit. Ya, Alloh… berikan aku kekuatan untuk menegakkan syariatmu. Jangan jadikan pengorbananku sia-sia Ya Alloh. Ia tertinggal jauh di belakang Pak Addin. Dengan tangan gemetaran, ia jawab SMS Arif.
“Cintamu hanyalah sekedar karena penampilanku. Ketika kuputuskan memakai jilbab ini, kuputuskan pula untuk menghadapi segala konsekwensinya, Sayang. Baiklah, jika ini yang terbaik buatmu dan aku, kita akhiri cinta sampai di sini. Aku tetap akan memakai jilbabku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s