Aja rumangsa bisa

AJA RUMANGSA BISA, NANGING BISAA RUMANGSA Oleh: Saifuddin Amrullah, S.Pd. Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa. Itu yang pertama kali terngiang di telinga hatiku ketika aku merasa sombong dengan kelebihanku. Ketika aku merasa unggul dari orang lain. Ketika aku merasa dibutuhkan oleh orang lain. Arti dari ungkapan jawa tersebut adalah janganlah kita merasa (paling) bisa, tapi kita harus bisa merasakan (perasaan orang lain). Ungkapan jawa tersebut juga membuat hati ini merasa lebih tenang dan bijak dalam bersikap ketika apa yang kita lakukan dengan sepenuh hati ternyata masih juga mendapat cacian atau celaan orang. Hati kita menjadi lebih “sederhana” bereaksi terhadap “sikap negatif” orang terhadap apapun yang telah kita lakukan. Berbicara memang lebih mudah daripada bertindak. Orang lupa, ketika bertindak ia telah berani untuk menghadapi konsekuensi dari tindakannya, tidak sekedar berandai-andai atau berargumen semata. Orang yang telah bertindak lebih berharga daripada orang yang tinggal bicara. “Jangan merasa bisa” juga sebagai koreksi diri, ketika kita merasa tindakan kita ini sudah terlalu benar. Repotnya, saat diri kita merasa terlalu benar, terlalu hebat, berarti kita sebenarnya telah dibentengi dengan kesombongan. Kita tidak akan menerima masukan dari orang lain. Kita enggan untuk memperbaiki tindakan kita dengan apa yang disarankan orang lain. Ketika kita sudah tak mau menerima kritik, kita akan selamanya terjerembab dalam ke-PD-an yang salah. Selamanya kita akan terperangkap dalam kekeliruan yang berlarut-larut. Kita bisa belajar dari kritik orang, celaan orang, sinisme orang, atau sandungan-sandungan rival. Intinya, kita belajar dengan mencermati feedback (umpan balik) kehidupan terhadap kita. Apakah kita “tidak terima” lalu marah dan menuntut balas pada orang yang mengkritisi kita? Atau kita berlapang dada dan bersedia belajar kembali ketika kritik, sinisme, celaan dan hujatan mengikuti langkah kita. Biarlah kita bersakit hati sedikit dan berkata, “Iya, maaf. Kemampuanku emang segitu. Insyaallah akan lebih baik di kesempatan lain.” Kemudian kita memperbaiki diri. Sedang orang yang memperolok dan bersikap kritis pada kita akan merasa “juara” menjatuhkan kita. Tapi, sebenarnya ia tidak “menjatuhkan” kita. Ia sendiri yang “terjatuh” karena “hanya bisa berbicara”, sedangkan kita telah lebih maju selangkah. Karena kita telah lebih berani dengan “telah bertindak”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s