SEPI ING PAMRIH RAME ING GAWE

SEPI ING PAMRIH RAME ING GAWE
Oleh : Saifuddin Amrullah, S.Pd.

Kadang saya tidak habis pikir, sampai sejauh mana orang menilai pribadi orang lain. Dengan parameter apa? Orang jawa mengatakan, “Ajining dhiri gumantung ana ing lati, ajining sarira gumantung ana ing busana.” Sepintas yang ternilai adalah penampilan fisik dan cerminan tutur kata. Apakah tutur kata mencerminkan kepribadian seseorang? Apakah penampilan pakaian mencerminkan pula pribadi seseorang?

Agaknya memang ungkapan Jawa tersebut tidaklah terlalu tepat dan relevan untuk saat ini. Saat ini banyak ungkapan yang dimodifikasi. Seperti saya pernah membaca ungkapan yang diplesetkan teman saya, lebih parahnya lagi saya plesetkan lebih jauh. Kurang lebih begini, “ Becik ketampik, ala ditampa. Wong ora genah waton sumringah dadi gagah, wong ngawur disanak kaya sedulur. Penjahat waton sopan iso dadi panutan. Wong jujur malah di jur, wong apik malah ngakik.”

Ya, begitulah saya menulis di wall facebook saya. Banyak tanggapan. Semua merasakan hal yang sama. Baik dalam skala mikro seperti di tingkat masyarakat RT, RW, desa, maupun skala yang lebih besar seperti kecamatan atau kabupaten. Bahkan sampai tingkat nasional segala. Terbukti dengan adanya istilah yang akrab ditelinga sahabat-sahabat saya di facebook seperti maling-maling berkrah putih, berjas rapi, pakai mobil mewah dan berbicara dengan santun. Konon mereka disebut dengan srigala berbulu domba.
Fenomena ini sudah disinggung dan diramalkan oleh Joyo Boyo. Kalau tidak salah saya memahami sebagai berikut, ”Iki jaman edan nek ora edan ora melu keduman. Bejo bejone wong, yo kuwi kang isih waspodo, eling lan ngati-ati.” Kurang lebih begitu.
Nampaknya sudah menjadi tren orang menjadi serigala berbulu domba. Untuk kepentingan dirinya, untuk kesejahteraannya, untuk keselamatan dirinya maka mereka belajar untuk mampu bermimikri, seperti bunglon yang menyamar dan pintar menyesuaikan diri. Ini hal yang menyedihkan. Apalagi sampai mengorbankan orang lain. Tidak adakah lagi orang yang benar-benar merindukan kebenaran, ketulusan, dan kebijakan hati? Kebesaran jiwa?
Mungkin sudah jarang ada. Kita kadang tenggelam dalam tujuan, tenggelam dalam kepentingan, tenggelam dalam kemudahan untuk berkhianat pada nurani, berkhianat pada pekerjaan, berkhianat pada amanah, dan mungkin berkhianat pada negara, pada para pendiri negara dst.
Mestinya, apa yang menjadi tugas kita, laksanakanlah dengan sebaik-baiknya. Misalnya di komunitas sekolah. Ada pesuruh ya kudu ikhlas disuruh-suruh walau mungkin ia punya pekerjaan sampingan seperti juragan kambing dan membutuhkan banyak tenaga ataupun pikiran untuk mengurus pekerjaan sampingan tersebut. Kalau keberatan, ya berhentilah jadi pesuruh.
Ada staf tata usaha, pekerjaannya mengurusi administrasi sekolah, membantu kinerja guru dan kepala sekolah. Ada tugas? Ya harus legowo iklas menjalani. Toh, ia sudah memantapkan diri, nawwaitu untuk bekerja sebagai staf tata usaha atau karyawan kantor. Bekerja dengan senyum, tidak methuthut seperti sakit gigi.
Atasan juga harus tahu diri, gaji yang diberikan harus sepadan dengan apa yang dilakukan bawahan. Tahu diri bisa dengan menjaga “rasa” yang merupakan “sesuatu” yang sensitif.
Among rasa bisa kita lakukan dengan berbagai cara. Saya mencoba menerapkan dan belajar merasakan reaksi positifnya. Suatu ketika, saya minta diberi map snelter untuk berkas anak-anak lomba. Saya merasa bukan sebagai bos yang menggaji mereka, maka saya pun minta tolong dengan memakai gaya bahasa yang merendah. Contohnya, “Mbak Tin, ada tidak map-map bekas sing elek-elekan buat tempat berkas siswa yang mau ikut lomba ini.” Atau saya pernah minta pada TU yang lain, “Pak, nyuwun spidol buat nulis di whiteboard. Spidol saya pas habis. Kalau tidak ada nggih sampun tak pinjam sama guru lain.” Hehehe, sudah sepantasnya kita sopan pada siapa saja, lebay dikit tidak apa-apa. Pernah saya minta tolong pada penjaga perpustakaan yang notabene bekas murid saya,”Riani yang baik hati dan tidak sombong, tolong anak-anak kelas VII yang sedang diperiksa darahnya di laboratorium di arahkan.”
Sebagai guru ya harus iklas mengajar. Jangan pengen dikorting jam mengajarnya kalau gaji masih pengen utuh. Mau dikorting jam mengajar ya harus rela gajinya dikorting. Semua bekerja dalam lini yang jelas. Laksanakan dengan iklas, semampu dan seoptimal mungkin. Kenapa demikian? Agar gaji yang kita terima halal dan baik untuk dikonsumsi keluarga tercinta di rumah. Bayangkan keluarga makan daging sapi hasil pengkhianatan pada pekerjaan, pengkhianatan pada amanah profesi. Tegakah kita?
Intinya dikembalikan pada kesadaran kita. Apakah kita akan menjadi pribadi yang jelas-jelas baik atau cuma seperti baik? Benar-benar iklas atau mirip-mirip iklas? Aja dumeh, itulah prinsip yang kita pegang. Aja dumeh kuasa, aja dumeh bisa, aja dumeh bandha. Jadi PNS ya kudu menjalankan tugas sebagaimana mestinya, jangan makin nglokro karena sudah diangkat dan berstatus pegawai negeri. Pakailah semangat para GTT dan PTT. Mereka bekerja dengan baik, tidak tinggi hati, sadar mereka mengabdi, sadar mereka berjuang dari nol untuk masa depan diri sendiri dan bangsa ini. Ketika jadi PNS jangan jadi arogan, angkuh, gak mau repot, main perintah, diberi tugas tidak lego lilo.
Sepi ing pamrih rame ing gawe. Itu pantas diterapkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s