Yang Terbaik untuk Susanti

Yang Terbaik untuk Susanti

Oleh : Sistriani, kelas VII A, SMPN 2 Bandar, April 2012

 

Gadis berseragam merah putih itu berlari menyusuri jalan perbukitan yang tandus. Siang itu terasa sangat terik. Matahari seakan dekat di ubun-ubun kepala. Tubuhnya yang mungil begitu lincah melompati batu-batu jalan yang setiap hari ditapakinya. Kulitnya yang legam, menyiratkan betapa ia telah akrab dengan keprihatinan, kesederhanaan, dengan problematika hidup yang tak bisa ia hindarkan. Jika takdir hidup adalah pilihan, tentu anak seusianya akan memilih hidup sebagai anak dari orang tua yang mapan, kecukupan sandang pangan, dapat menikmati segala fasilitas kemewahan. Tetapi, tidak bagi Susanti. Anak kelas enam SD ini setiap hari harus membantu orang tuanya. Menyisihkan waktu belajar dan bermain untuk membantu ibunya sebagai buruh cuci baju di rumah.

Langkah Susanti berakhir di sebuah gubuk kecil di tengah dusun. Sangat bersahaja, kontras dengan kondisi perekonomian tetangga kiri kanannya. Rumahnya terbuat dari bambu yang dianyam sekedarnya. Beberapa bagian bawahnya malah terlihat berlobang-lobang dimakan usia. Lantai beralaskan tanah, ruangan rumahnya terlihat begitu suram tanpa banyak disapa cahaya. Di halaman depan rumah terlihat beberapa tumpukan kertas bekas, kardus, botol-botol aqua yang bertebaran di mana-mana. Kumuh, kotor, menyedihkan.

Setiap hari ayah bekerja memunguti sampah. Ayah selalu berangkat pagi-pagi agar dapat memperoleh kardus, plastik, atau kertas dengan jumlah yang cukup banyak untuk dijual ke pengepul.  Dari sampah-sampah yang dikumpulkan, beberapa di antaranya dimanfaatkan oleh perajin sekitar untuk membuat kerajinan tangan, seperti tas, vas bunga, taplak meja, kap lampu meja dan sebagainya. Walaupun dusun tempat tinggal Susanti tergolong terpencil, tapi kehidupan dusun tersebut cukup dinamis dengan perputaran kehidupan ekonominya. Beberapa warga bertani cengkeh, temu ireng, singkong, dan sebagian berprofesi sebagai perajin barang-barang bekas.

Rejeki ayah Susanti bermula dari kreativitas seorang guru pendatang dari Surabaya. Bu Irna namanya. Dengan tangan dingin guru SMP tersebut, terciptalah kerajinan-kerajinan tangan yang luar biasa. Ibu Irna menyulap plastik-plastik bekas sabun cair menjadi tas belanja, mengkreasi batok kelapa menjadi kap lampu yang memesona, membuat vas bunga dari keramik yang berbalut koran bekas, dan sebagainya. Sejak itulah, sampah plastik, kardus, ataupun kertas begitu berharga dan mendatangkan rupiah bagi warga. Tak terkecuali rejeki Abah, begitu Susanti memanggil ayahnya.

Walaupun demikian, pendapatan Abah tidak menentu. Kadang Abah mendapat sepuluh ribu, kadang cukup puas dengan uang lima ribu saja. Rezeki yang Abah peroleh mungkin hanya cukup buat membeli beras tanpa membeli lauk pauk. Sebagai tukang cuci bayaran, ibu kadang hanya mendapat upah tiga ribu hingga lima ribu rupiah.

Oh, iya. Susanti juga memiliki seorang paman yang sangat baik kepada dirinya. Paman Susantilah yang selama ini menyekolahkannya. Paman bekerja sebagai seorang sopir bus jurusan Pacitan – Surabaya. Istri paman membuka warung makan di depan rumah. Ketika tidak ada yang dikerjakannya di rumah, Susanti lebih memilih membantu bibinya di warung. Bibi memiliki anak semata wayang, Laila namanya. Mungkin karena Laila anak tunggal, ia tumbuh menjadi anak manja.

Suatu hari saat Susanti pulang dari rumah Bu Fatimah untuk mengantar cucian, tiba-tiba Laila menghampiri Susanti dengan wajah menyeramkan,

“ He, Santi!” teriak Laila

“ A… Ada apa, Laila?” jawab Susanti terbata-bata

“ Aku bilangin, ya sama kamu! Walau kamu keponakan ayahku, jangan pernah coba-coba mencari muka di hadapannya. Gak usah sok baik, sok rajin, sok lugu deh!” Cerocos Laila bernada tinggi.

“Aku tuh sebenarnya malu punya saudara seperti kamu yang dekil, kurus, miskin lagi. Nyadar dikit kenapa, sih!” lanjut Laila berkacak pinggang. Sesekali ia merapikan poninya yang berantakan diterpa angin.

“Maaf Laila, aku sering main ke rumahmu untuk membantu bulik. Pak Lik dan Bu Lik telah banyak membantu keluargaku. Apa salahnya aku membalas budi baik mereka dengan membantu sekedarnya di warung.” Jawab Susanti datar. Ia mencoba selalu bersabar.

“Syukurlah, deh kalo gitu. Tapi inget, jangan cari muka di depan mereka.” Tukas Laila ngeloyor pergi. Susanti mengerti apa maksud semua perkataan Laila. Memang benar, selama ini ia telah menyusahkan pamannya karena selama ini pamannyalah yang telah banyak membantu keluarganya. Ah, ia jadi teringat, ia harus membayar uang tagihan buku dan study tour tahun ini. Apakah orang tuanya mampu? Apakah ia harus meminta kepada paman dan bibinya? Sampai kapan ia harus menjadi beban orang lain? Belum lagi kata-kata Laila yang pasti akan semakin pedih menyakitinya.

Ketika kembali melangkahkan kakinya, Susanti melihat selembar pengumuman tertempel di pos ronda di ujung jalan desa. Dalam pengumuman itu dijelaskan bahwa kabupaten Pacitan akan mengadakan lomba tari tradisional khas Jawa Timur. Hadiahnya cukup lumayan. Juara pertama akan mendapat uang tunai Rp500.000,00. Juara kedua dan ketiga masing-masing sebesar tiga ratus ribu dan dua ratus ribu rupiah. Wow, fantastis. Sejenak Susanti berpikir untuk mencoba mengikuti lomba tersebut. Seandainya juara,Susanti bisa membayar uang sekolah tanpa menyusahkan paman dan bibinya.

Susanti berlari pulang. Setumpuk khayalan berlalu lalang di benaknya. Andai…andai dan andai.

“Santi, kenapa kamu kok seperti dikejar setan aja?” tanya ibu terheran-heran menjumpai Susanti yang terengah-engah sehabis berlari.

“Ibu, ibu, sebentar lagi akan diadakan lomba menari tradisional di kabupaten bu..!!”

“Lalu, kenapa? Kamu ingin ikut?” tanya ibu sambil membetulkan pita rambut Susanti.

“Iya, bu. Boleh kan?” tanya Susanti berharap.

“Ibu, kan pernah cerita padaku bahwa ibu pernah menjadi penari saat ibu masih muda dulu? Gimana kalau ibu mengajari aku menari?” kata Susanti dengan mata bersinar penuh semangat.

“Tapi, itu sudah lama sekali, Santi. Kurang lebih 15 tahun yang lalu.” Sahut ibu sedikit pesimis.

“Tolonglah bu. Ibu ingat-ingat lagi gerakkannya.” Pinta Susanti, memegang kedua tangan ibunya.

“ Ya, sudah. Nanti ibu ingat-ingat kembali,” jawab ibu singkat sambil mencubit pipi anaknya tercinta.

“Makasih ya, bu. Aku sayang ibu,” dengan hati berbunga-bunga.

***

Malamnya Susanti bertanya kepada ibunya. Ia masih penasaran, tari apa yang akan ibu ajarkan kepadanya. “ Sudah ingat apa belum, Bu?” tanya Susanti berbinar-binar

“Tapi, ibu hanya ingat tari dari Bandar, yaitu tari petik pari.” Sahut ibu.

“Gimana, bu, gerakkannya?” tanya Susanti penasaran.

Ibu menggerakkan tangannya, memberi contoh. “ Angkat tangan kamu yang kanan di atas kepala, lalu tangan kiri di depan dada..” Dengan teliti ibu melatihkan gerakkan tari. Tak terasa malam semakin larut. “Besok lagi, Santi. Ibu sudah capek dan mengantuk. Besok ibu harus ambil cucian di rumah Bu Tarmi”

“Ya, Bu.” Jawab Santi singkat. Ia terus menggerak-gerakkan tangannya melatih beberapa gerak tari yang baru dipelajarinya. Ibunya terheran-heran. Kenapa Susanti begitu semangat ikut lomba itu.

Beberapa waktu berlalu. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Festival seni tari daerah tingkat kabupaten. Susanti tampil dengan memakai baju dan dandanan yang sederhana. Mencerminkan gerak tari yang nanti ia peragakan di depan juri. Ternyata, Laila juga ikut dalam festival tersebut.  Melihat Susanti, Laila menghampirinya.

“ Hai, Susanti! Dandananmu kampungan banget. Mosok pakai pakaian petani begitu?” ejek Laila, “Lihat neh penampilanku, berkilauan kaya putri raja” tambah Laila menyombongkan diri.

“ Laila, juri menilai kontestan tidak semata-mata dari kostum, tetapi dari gerakan dan keluwesan kita dalam menari,” jawab Susanti menahan diri.

“ Pintar bicara kamu, ya?” tantang Laila, “Lihat aja nanti”

Dan, malam itu saatnya Laila menari di atas panggung. Applaus penonton sorak sorai membahana. Semakin Laila terbang dengan segala keangkuhannya. Sempat Laila melirik Susanti. Kelihatan dari kilatan matanya Laila ingin menunjukkan inilah dia. Laila sang juara yang tak terkalahkan.

Berikutnya adalah giliran Susanti. Irama gamelan sederhana mengiringi ia bergerak gemulai. Seolah petani yang memetik padi. Memanen hasil bumi. Memuja nikmat ilahi. Penonton terdiam. Tak satu pun berkomentar. Tak satu pun terdengar tepuk tangan. Susanti tak peduli. Ia menari, menari dan menari. Hingga akhirnya gamelan terhenti. Para juri saling berpandangan. Para penonton terdiam. Laila tertawa. Ia membusungkan dadanya. Juri masih terlihat sibuk berdiskusi. Susanti dipersilakan untuk turun dari panggung.

“Hadirin yang terhormat, tibalah saatnya kita menyimak hasil keputusan dewan juri. Siapakah yang berhak menjadi juara dalam festival seni tari tradisional ini.” Pewara pun mulai mengumumkan hasil penilaian.

“….dan juara pertama , Tari Petik Padi, dibawakan oleh peserta nomor 67, Siti Susanti..!!”

Penonton bersorak sorai. Susanti yang tadi pesimis terbengong-bengong tak percaya.

“ Susanti, selamat! Anda berhak mendapatkan juara pada malam hari ini. Tari Petik Padi yang anda bawakan termasuk jenis tarian langka. Jarang sekali dibawakan pada setiap festival seni. Anda membawakannya dengan sangat baik. Sekali lagi, berikan tepuk tangan pada Susanti!”

Susanti seakan tak percaya. Air mata meleleh di pipinya. Ia merasa haru dan bahagia. “Ibu, ibu… aku juara, Bu. Aku berhasil. Aku bisa membantu ibu. Ibu tak perlu mencemaskan lagi uang sekolahku kali ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s