GURU DAN TUGASNYA

GURU DAN TUGASNYA
Sudah hampir 5 tahun mungkin, kebiasaan memilih guru favorit siswa diadakan di sekolah saya. Pertama kali diadakan terasa dampak yang oleh orang-orang pintar lazim menyebutnya sebagai “hasil yang signifikan”, yah, beberapa dari kami di antaranya tergugah untuk berlomba memberikan yang terbaik untuk siswa. Terlepas dari segi positif dan negatifnya, tujuan utama diadakan poling guru teladan atau favorit adalah untuk mengukur sejauh mana penilaian siswa merasakan “servis” yang layak dari guru pengajarnya.
Namun tujuan mulia tersebut menghasilkan pula pengaruh yang berbeda-beda dalam realitas interaksi belajar mengajar selanjutnya. Apa yang dirasakan guru favorit yang terpilih akan berbeda dengan apa yang dirasakan guru yang hampir tak pernah terpilih. Ketika guru favorit terpilih, ia akan termotivasi untuk mempertahankan prestasinya. Memberikan pelayanan terbaik untuk siswanya. Mengalirkan inovasi-inovasi untuk membuatnya selalu “menarik” di hadapan anak-anak, maupun kepala sekolah. Apa yang terjadi pada guru yang tak pernah menjadi favorit ?
Kemungkinan pertama, ia akan instrospeksi diri. Apa yang kurang dari dirinya sehingga ia tak pernah menjadi favorit di kalangan siswa? Lalu timbul keinginan untuk memperbaiki, meningkatkan performa, memacu kinerja. Itu adalah kemungkinan ideal. Kepala sekolah manapun akan memimpikan dampak tersebut.
Kemungkinan kedua, guru akan belajar iklas. Ini sudut pandang para kiai yang sering saya dapatkan di pengajian-pengajian. Mengajar itu adalah ibadah. Menjalankan ibadah itu harus iklas. Iklas itu tanpa pamrih. Pamrih itu imbalan. Imbalan itu salah satunya adalah pujian. Guru favorit adalah pujian siswa kepada gurunya. Guru yang berpandangan ridho lillahi ta’ala tak akan silau oleh label “favorit”. Mereka tidak doyan. Yang berhak untuk membalas segala amal itu adalah Tuhan. Kalaupun mereka mendapat gelar favorit dari siswanya, mereka akan memandang itulah nikmat Tuhan sebagai motivasi untuk meningkatkan diri menjalankan amanah, memberikan ilmu kepada anak didik.
Kemungkinan ketiga, guru yang tak pernah favorit akan semakin apatis. Mereka tidak butuh gelar. Mereka bekerja atau tidak sudah dibayar. Tugas sama, pekerjaan sama (pada praktiknya berbeda, tapi dalam pandangan mereka “sama”), gaji sama. Golongan ini memandang tak perlu merepotkan diri untuk menjadi pilihan. Target mereka bisa jadi lebih tinggi. Misal, dari pada mengurusi sekolah mending total di usaha peternakan ayam, jual beli kayu, makelar tanah. Toh, semua itu lebih mendatangkan keuntungan dari pada istilah “guru favorit”. Buat apa menjadi guru favorit jika motor ketinggalan model, bila tak bisa membeli mobil, bila tak bisa membangun rumah yang layak, bila tak bisa makan enak. Guru favorit is nothing.
Kemungkinan keempat, guru yang selalu mengajar dengan senang. Mereka mencintai profesinya. Mereka akan tetap berdiri mengajar dengan senyum walau penghargaan tak pernah mampir ke tangannya. Mereka akan tetap mengajar walau siswa memandang sebelah mata kepadanya. Mereka akan tetap setia menyumbangkan pengetahuannya untuk siswa tercinta. Mereka adalah guru yang lugu. Atau mungkin masih tersisa idealisme mereka sama seperti saat pertama kali terjun mengajar. Saat masih berbau mahasiswa. Bagi guru golongan ini, mengajar adalah seni. Kepuasan mengajar tak bisa diukur dengan materi, tak bisa diukur dengan istilah “teladan”, “favorit”, “unggulan”, dan sederet label-label lainnya. Mereka bisa saya lihat di daerah-daerah terpencil. Mengajar di kelas yang beratap jerami, beralas tanah, berdinding kayu, persis seperti kandang kambing. Tapi mereka tetaplah seorang guru. Sama dengan saya, sama dengan para guru yang bersertifikat, sama dengan guru kota yang selalu memakai parfum wangi, merawat kulit dan rambutnya, memegang Ipad, mengoperasikan laptop, atau update status di facebook. Mereka sama, hanya semangatnya berbeda. Dalam keterbatasan mereka tak pernah mengeluh. Tak pernah iri dengan jumlah jam. Tak pernah beralasan untuk bekerja seenaknya karena tak pernah dipedulikan. Mereka adalah seniman dalam dunia pendidikan.
Kemungkinan kelima, terjadi gap atau jarak antara guru teladan dengan guru telatan. Ini masalah hati. Siapapun berhak dan ingin diberi penghargaan. Minimal perhatian. Guru yang tak pernah tersentuh penghargaan dari atasan mungkin akan berputus asa. Motivasi mereka akan menurun. Mungkin juga akan merasa iri tapi tak mampu untuk mengaktualisasikan diri lebih tinggi lagi. Mereka adalah golongan yang terlupa. Luput dari pandangan kepala sekolah yang kadang tak tahu “lambe atinya” anak buah. Kadang mereka menilai dari permukaan. Mereka tidak pernah “heart to heart” dengan anak buah. Bisa jadi ini adalah pemicu perselisihan dan ketidakharmonisan para guru.
Mungkin akan lebih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang lain. Kita para guru termasuk yang mana? Mudah-mudahan termasuk dalam kombinasi guru iklas dan guru yang “nyeni”. Total dalam bekerja, iklas dalam segala balasannya. Tak perlu mengharap akan dikenang, tak perlu mengharap akan selalu dihormati, tak perlu mengharap selalu dipuji.
Saifuddin Amrullah, S.Pd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s