BELAJAR MENJADI BAIK ITU BERAT

BELAJAR MENJADI BAIK ITU BERAT,
JANGAN MEMPERBERAT ORANG YANG BELAJAR JADI BAIK
SAIFUDDIN AMRULLAH, S.Pd.
04 April 2012, 18.33 WIB

Ketika tahun-tahun pertama bekerja di sekolah saya sekarang ini, saya begitu penakut. Saya berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatan saya. Sampai dalam doa selalu saya panjatkan, “Ya, Alloh, semoga Engkau berikan hamba-Mu ini kekuatan untuk dapat bekerja dengan sebaik-baiknya, agar tidak mengecewakan pimpinan hamba, agar saya berguna di sekolah ini ya, Tuhan.” Lebay, tapi itu kenyataan. Saya punya niat dan semangat untuk menjadi orang yang bermanfaat.
Suatu ketika saya membuat kesalahan dengan kegiatan LDK OSIS yang saya adakan (saya waktu itu sebagai wakil pembina Osis, pembina osis saat itu sedang cuti melahirkan).Waktu itu, saya sudah memohon kepada kepala sekolah untuk membukanya. Tapi tak ada jawaban. Saya juga minta kepada wakil kepala sekolah untuk menggantikan kepala sekolah membuka LDK OSIS jika beliau berhalangan. Sama, tak ada balasan. Pagi-pagi saya berangkat dengan semangat. Anak-anak sudah siap untuk mendapat materi. Kira-kira 25 orang pengurus OSIS yang baru. Karena waktu menunjukkan pukul 09.30 dan kepala sekolah serta wakilnya belum juga datang, saya memulai memberikan materi. Harapannya adalah agar kepala sekolah bisa membuka atau menyambut saat beliau nanti datang. Toh, pembukaan bisa dilakukan sewaktu-waktu. Tapi apa yang saya dapatkan. Kepala sekolah marah besar. Beliau merasa disepelekan. Saya merasa sedih, motivasi saya langsung down.
Banyak serentetan kesalahan-kesalahan lain yang saya lakukan ketika pertama kali mengajar di sekolah ini. Banyak yang menertawakan dan mencemooh saya. Saya heran, mengapa mereka tidak menghargai saya yang belajar dan ingin maju? Semua orang ingin bermanfaat untuk masyarakatnya, untuk menjalankan dengan baik profesinya, kesalahan dalam belajar adalah hal yang wajar. Dari kesalahan, seseorang belajar untuk mencari pencerahan. Saya kadang menangis di kamar kost ketika mengingat-ingat kejadian di sekolah kala itu. Banyak yang menyalahkan saya, menilai negatif apa yang saya lakukan.
Tapi, untunglah tidak semua orang bersikap seperti itu. Ada beberapa orang yang benar-benar memahami saya. Menurut beberapa orang itu, belajar itu pasti mendapatkan kendala. Berikut ini sebagian dari hal-hal penting yang selalu saya ingat. Kepala sekolah saya yang pertama, sebut saja Pak P. pernah memarahi saya karena saya terlambat unjuk muka. Waktu itu saya bertemu beliau pagi harinya, sewaktu pengambilan foto kartu tanda pengenal guru di kecamatan Tegalombo. Saya dimarahi, mengapa kemarin tidak muncul saat unjuk muka pertama. Saya menjawab, “Susah mencari ojek dari terminal, Pak.” Pak P yang mukanya seram tiba-tiba berubah menjadi berseri, bahkan tertawa. Mungkin beliau melihat ekspresi saya begitu lucu (lugu dan culun). Bahkan beliau merangkul pundak saya, sambil berkata, “Selamat datang ke Pacitan, mas Saifuddin.” Plong hati saya, ternyata beliau mempunyai maksud memberikan kejutan kepada saya. Beliau juga berpesan untuk menikmati pekerjaan saya, bukan sekedar melaksanakan pekerjaan saya. Itu pelajaran pertama saya di Pacitan.
Pelajaran kedua adalah ketika saya dipercaya menjadi kesiswaan oleh Pak D. Kepala sekolah saya beberapa waktu lalu. Saya tidak percaya diri saat itu. Beliau mengajak saya untuk jajan di warung nila bakar dekat pantai. Saya deg-degan ketika beliau mengatakan bahwa saya kesiswaan baru, menggantikan kesiswaan lama yang naik menjadi wakil kepala sekolah. Saya mengatakan kalau saya tidak mampu, saya takut kejadian LDK OSIS beberapa tahun lalu terulang kembali. Saya menyadari betapa bodohnya saya, betapa cerobohnya saya. Beliau mengatakan, tidak perlu khawatir. Beliau mengatakan salah apabila saya tidak pernah mencoba. Setiap orang pasti akan pernah merasakan kritikan, bahkan hujatan. Tapi, dengan semua itu kita akan memiliki segudang pengalaman. Hak orang lain menilai kita dan kita juga berhak untuk memperbaiki segala kekurangan kita.
Saya menyimpulkan, ada dua tipe sahabat atau rekan kerja bahkan pemimpin. Sahabat yang pertama bertipe perusak. Dalam pewayangan identik dengan Sengkuni. Suka njlomprongke, senang kalau kita celaka, tertawa kalau kita mendapatkan cobaan. Istilahnya “nyukurke”. Mereka mencari-cari kesalahan dan kelemahan kita, mencibir setiap pemikiran kita, menjegal setiap langkah kita. Itu Sengkuni, Cakil methakil, dan Burisrawa.
Tipe kedua adalah sahabat yang mendorong kita untuk maju. Memberi koreksi tapi juga membantu menyumbangkan solusi. Ini adalah sahabat yang berjiwa Pandu. Mereka akan membimbing kita ketika terpuruk, mereka akan memotivasi kita, membangun keoptimisan kita dalam melangkah. Mereka tak mungkin tega “menggembosi” semangat kita.
Satu hal lagi, biarkan orang itu belajar. Dalam proses belajar itu, kesalahan adalah salah satu mata pelajarannya. Perlu evaluasi-evaluasi dan uji coba untuk mendapatkan predikat “lulus”. Lulus dalam segala hal, termasuk lulus menjadi manusia yang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s